Jumat, 25 Oktober 2019

The 7 Habits of Highly Effective People ( 7 Kebiasaan Manusia yang Sangat Efektif)



Sebelumnya apakah disini ada yang sudah pernah membaca buku ini? Atau pernah mendengar mengenai buku ini? Atau tidak mengetahui sama sekali?. Apabila yang sudah pernah membaca mungkin sudah mengetahui mengenai isi buku ini dan untuk yang baru mendengar atau sama sekali tidak tahu mari kita bahas bersama. Buku karya Stephen R. Covey ini berisi mengenai 7 kebiasaan manusia yang sangat efektif yang sudah membuat banyak orang terinspirasi termasuk saya. Dari kebiasaan tersebut dapat membuat karakter seseorang berubah menjadi lebih baik dan bisa kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Mari kita ulas bersama lebih jauh mengenai buku The 7 Habits of Highly Effective People.
Apa itu kebiasaan? Kebiasaan adalah faktor yang sangat kuat dalam hidup kita. Karena konsisten, dan sering merupakan pola yang tidak disadari, maka kebiasaan secara terus menerus, setiap hari dapat menghasilkan efektivitas kita atau ketidakefektivan kita. Agar sesuatu bisa menjadi kebiasaan dalam hidup kita, kita harus membunyai pengetahuan, keterampilan dan keinginan. Pengetahuan disini adalah apa yang harus kita lakukan, dan mengapa kita harus melakukan hal tersebut, sedangkan keterampilan adalah bagaimana kita melakukan suatu hal, dan keinginan adalah motivasi kita untuk melakukan suatu hal. Kita harus mempunyai ketiga hal tersebut supaya bisa tercipta suatu kebiasaan, karena ketiga hal tersebut saling berhubungan. Sedangkan karakter kita pada dasarnya diciptakan dari gabungan-gabungan kebiasaan kita, sebagai contoh kita terbiasa memberi tanpa mengharapkan imbalan, karena kebiassan tersebut memunculkan sebuah karakter seseorang disebut dermawan. Dan inilah 7 kebiasaan manusia yang sangat efektif dalam buku The 7 Habits of Highly Effective People. Kebiasaan 1 sampai 3 mengarah ke kemenangan pribadi, sedangkan kebiasaan 4 sampai 6 mengarah ke kemenangan publik dan kebiasaan ke 7 mengarah ke pembaruan.
1.      Jadilah Proaktif
Kebiasaan yang pertama adalah jadilah proaktif, dalam menemukan prinsip dasar sifat manusia, Frankl menggambarkan sebuah peta diri yang akurat dan dari mana ia mulai mengembangkan kebiasaan pertama yang paling mendasar dari manusia yang sangat efektif pada lingkungan apapun, yaitu kebiasaan proaktivitas. Kata proaktivitas saat ini sudah sering kita dengar. Kata ini berarti bahwa sebagai manusia, kita bertanggung jawab  atas hidup kita sendiri. Perilaku kita adalah fungsi dari keputusan kita, bukan kondisi kita. Kita mempunyai inisiatif dan tanggung jawab untuk membuat segala sesuatunya terjadi.

2.      Merujuk pada Tujuan Akhir
Merujuk pada tujuan akhir yaitu mengawali hari ini dengan bayangan, gambaran, atau paradigma akhir kehidupan kita sebagai kerangka acuan atau kriteria yang menjadi dasar untuk menguji segala sesuatu. Setiap bagian dari kehidupan kita seperti perilaku hari ini, perilaku esok, perilaku minggu depan, perilaku bulan depan-dapat diuji dalam konteks keseluruhan, dari apa yg benar-benar paling penting bagi kita. Dengan mengusahakan tujuan akhir tersebut tetap jelas dalam pikiran, kita dapat memastikan bahwa apa pun yang kita kerjakan pada hari tertentu sebagai yang paling penting.
Merujuk pada tujuan akhir berarti memulai dengan pengertian yang jelas tentang tujuan yang akan kita capai. Hal ini berarti mengetahui kemana kita akan pergi sehingga kita sebaiknya mengerti dimana kita berada sekarang dan dengan begitu kita tahu bahwa langkah-langkah yang kita ambil selalu berada pada arah yang benar.
3.      Dahulukan yang Utama
Kebiasaan ke-3 adalah ciptaan kedua yaitu ciptaan fisik. Kebiasaan ini adalah pemenuhan,aktualisasi,kemunculan wajar dari kebiasaan 1 dan 2. Merupakan latihan kehendak bebas yang berpusat pada prinsip. Dan pelaksanaannya hari demi hari dan saat demi saat. Kebiasaan 1 dan 2 mutlak penting dan merupakan prasyarat untuk kebiasaan 3. Kita  tidak dapat berpusat pada prinsip tanpa lebih dulu sadar dan mengembangkan sifat proaktif kita. Kita tidak dapat berpusat pada prinsip tanpa dahulu sadar tentang paradigma kita dan mengerti bagaimana mengubah paradigma tersebut dan menyelaraskannya dengan prinsip.
Ingatlah menajemen jelas berbeda dari kepemimpinan. Kepemimpinan merupakan aktivitas otak kanan yang tinggi. Kepemimpinan lebih merupakan seni, didasari oleh suatu filosofi tertentu. Kita harus mengajukan pertanyaan tertinggi tentang hidup ini sewaktu kita berurusan dengan masalah kepemimpinan pribadi.nAkan tetapi segera sesudah kita berurusan dengan persoalan tersebut, segera sesudah kita memecahkannya, kita pun harus mengatur diri kita secara efektif untuk menciptakan suatu kehidupan yang sesuai dengan jawaban kita. Manjemen adalah penguraian,analisa,peruntutan,aplikasi spesifik,aspek otak kiri yang terikat waktu dari pengaturan diri yang efektif.
4.      Berpikir Menang/Menang
Menang/Menang adalah kerangka pikiran dan hati yang terus menerus mencari keuntungan bersama dalam semua interaksi manusia. Menang/Menang berarti bahwa kesepakatan atau solusi memberikan keuntungan dan kepuasan yang timbal balik. Dengan solusi Menang/Menang, semua pihak merasa senang dengan keputusannya dan merasa terikat dengan rencana tindakannya. Menang/Menang melihat kehidupan sebagai arena yang koperatif, bukan kompetitif. Kebanyakan orang cenderung berpikir secara dikotomi: kuat atau lemah, keras atau lunak, menang atau kalah. Akan tetapi cara berpikir seperti ini pada dasarnya cacat.Cara berpikir ini didasarkan pada kekuasaan dan posisi dan bukan pada prinsip. Menang/Menang didasarkan pada paradigma bahwa ada banyak untuk setiap orang, bahwa keberhasilan satu orang tidak dicapai dengan mengorbankan atau menyingkirkan keberhasilan orang lain.
5.      Berusaha Mengerti Terlebih Dahulu
Berusaha Mengerti Terlebih Dahulu memerlukan perubahan paradigma yang sangat mendalam. Kita biasanya berusaha lebih dahulu untuk di mengerti bukan untuk mengerti. Kebanyakan orang tidak mendengar dengan maksud untuk mengerti; mereka mendengar dengan maksud untuk menjawab. Mereka entah berbicara atau berniat untuk berbicara. Mereka menyaring segalanya melalui peradigma mereka sendiri,membacakan autobiografi mereka ke dalam kehidupan orang lain.
6.      Wujudkan Sinergi
Jika dimengerti dengan benar, sinergi adalah aktifitas tertinggi dalam semua kehidupan-Ujian dan manifestasi sebenarnya dari semua kebiasaan lain digabungkan menjadi satu. Bentuk-bentuk tertinggi dari sinergi memfokuskan empat anugerah manusia yang unik , motif Menang/menang, dan keterampilan komunikasi empatik pada tantangan terbesar yang kita hadapi dalam hidup.Hasilnya nyaris merupakan mukjizat.Kita menciptakan alternative baru-sesuatu yang tidak ada disana sebelumnya. Sinergi adalah intisari dari kepemimpinan yang berpusat pada prinsip. Sinergi adalah intisari dari keorangtuaan yang berpusat pada prinsip. Sinergi berfungsi sebagai katalisator, menyatukan dan melepaskan kekuatan terbesar dalam diri manusia. Semua kebiasaan yang sudah kita bahas menyiapkan kita untuk menciptakan mukjizat sinergi. Apakah sinergi?didefinisikan secara sederhana, sinergi berarti keseluruhannya lebih besar daripada jumlah bagian-bagiannya. Ia berarti hubungan antar bagian dimana bagian-bagian itu merupakan bagian di dalam dan dari hubungan itu sendiri. Sinergi bukan merupakan suatu bagian belaka, melainkan bagian yang paling bersifat katalisator, paling memberdaya, paling menyatukan dan paling menyenangkan.
7.      Asahlah Gergaji
Kebiasaan ini memelihara dan meningkatkan asset terbesar yang kita miliki, yaitu diri kita. Kebiasaan ini mempengaruhi keempat dimensi alamiah kita yaitu fisik, spiritual, mental, dan sosial atau emosional. “Asahlah Gergaji” pada dasarnya berarti mengekspresikan keempat moivasi. Hal ini berarti menjalankan keempat dimensi sifat kita, secara teratur dan konsisten dengan cara-cara yang bijaksana dan seimbang.
Itulah ke-tujuh kebiasaan tersebut, selanjutnya kita akan mengaplikasikan ke-tujuh kebiasaan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
1)      Jadilah Proaktif
Pengaplikasian kebiasaan yang pertama adalah jika kita diberikan suatu pekerjaan kita harus bisa menjadi proaktif atau bertanggung jawab atas apa yang akan kita kerjakan, dan selesaikan pekerjaan tersebut sampai tuntas. Manfaatnya orang akan percaya kepada kita, karena kita sudah bertanggung jawab atas apa yang kita kerjakan.
2)      Merujuk pada Tujuan Akhir
Pengaplikasian kebiasaan yang kedua adalah seperti kita mempunyai cita-cita, cita-cita kita atau tujuan akhir kita adalah ingin menjadi seorang perawat maka memulainya kita harus sekolah dengan benar, belajar dengan giat sampai mengikuti perkuliahan jurusan perawat dan sampai akhirnya kita menjadi seorang perawat. Manfaatnya dengan hal ini, kita menjadi lebih termotivasi untuk mencapai target ini dan berusaha keras sampai mendapatkannya, juga ada hal yang kita targetnya untuk rencana kedepannya. Jadi untuk kedepannya kita harus punya rencana-rencana yang lebih banyak yang harus kita targetkan, inginkan, cita – citakan dan hasilkan secara spesifik, kemudian harus direalisasikan sehingga dari waktu ke waktu ada hasil yang bisa kita capai, karena segala sesuatunya pasti akan terjadi jika kita bisa meyakininya dan merealisasikannya. 
3)      Dahulukan yang Utama
Pengaplikasian kebiasaan yang ketiga adalah misalkan kita sudah kerja pasti kan tiap bulan itu mendapatkan penghasilan, banyak sekali keinginan kita yang belum terpenuhi, sementara kebutuhan hidup untuk sehari-hari sangat banyak. Maka dari situ kita harus mendahulukan yang utama atau memprioritaskan terlebih dahulu kebutuhan kita dan mengesampingkan keinginan kita. Manfaatnya mendahulukan yang utama menurutku, segala sesuatunya menjadi teratur dan tertata, tidak cuma – cuma dan sangat bermanfaat.
4)      Berpikir Menang/Menang
Pengaplikasian kebiasaan yang keempat seperti dalam kegiatan pembelajaran ada salah satu mata kuliah yang tidak bisa semisal mata kuliah Pendidikan Moral dan Karakter ada yang kita kurang paham, kita jangan malu untuk bertanya kepada teman yang lebih bisa, dan teman yang lebih bisa jangan pelit untuk membagi ilmunya, kita sama-sama belajar. Dan akhirnya setelah kita belajar kepada teman yang lebih bisa akhirnya kita mendapatkan hasil yang bagus, dan teman yang mengajari kita tambah lebih bisa lagi karena secara tidak langsung dia pun ikut berlatih belajar sehingga tambah pintar. Manfaatnya kita bisa saling bekerja sama, tolong menolong, saling berbagi tanpa ada pihak yang dirugikan.
5)      Berusaha Mengerti Terlebih Dahulu
Pengaplikasian kebiassan yang kelima seperti ketika sahabat kita ingin curhat, tentunya kita akan bersedia mendengarkan keluh kesah yang dialami sahabat kita itu, dia sering curhat tentang masalah kehidupan pribadinya, baik tentang kelurganya, pacarnya, pekerjaannya, ataupun yang lainnya. Begitu juga sebaliknya dengan kita. kita sering curhat dengannya karena kita sudah nyaman dan percaya padanya, apapun yang kita ceritakan dia pasti bisa menjaga rahasianya dan mendengarkannya dengan baik. Jadi sering saling curhat. Hal ini terjadi awalnya karena kita bisa mengerti, mendengarkan dan merespon cerita dia dengan baik secara empaty,  ketika kita beceritapun, sahabat kita akan merespon dengan baik, bahkan memberi solusi. Karena kita bisa  terlebih dahulu bisa mengerti dia kemudian hasilnya baru dimengerti.nManfaatnya melakukan habit yang kelima ini, kita bisa mendapat sahabat yang bisa di ajak sharing baik susah maupun senang juga memberikan solusi ketika ada masalah, kemudian kita bisa saling menghargai apa yang di ceritakan satu sama lain, berusaha mengerti apa yang dirasakan saat itu dan hal itu menambah keakraban.
6)      Wujudkan Sinergi
Pengaplikasian kebiasaan yang kelima misalnya kita bekerja dalam team di suatu perusahaan yang memiliki tujuan untuk memberikan kontribusi yang baik kepada perusahaan. Sehingga kita dan karyawan lainnya mewujudkan sinergi, saling bekerja sama, membantu, dan saling mencari solusi ketika ada masalah untuk memberikan kontribusi yang terbaik bagi perusahaan, contohnya; kita dan karyawan lainnya disiplin dalam bekerja, datang dan pulang kerja tepat pada waktunya, melakukan pekerjaan dengan baik sampai selesai dan mencapai target pekerjaan tepat pada waktunya. Dan apabila targetnya tidak tercapai, akan lebih dikoreksi lagi. Manfaatnya kita menjadi lebih ringan bebannya, karena semuanya dikerjakan bersama – sama.
7)      Asahlah Gergaji
Penerapan kebiasaan yang terakhir yaitu kita harus lebih mengasah lagi kebiasaan-kebiasaan positifnya supaya lebih baik lagi. Seperti pada dimensi fisik misalnya kita kita tidak suka olahraga, tetapi cobalah dengan perlahan melakukan olahraga seperti melakukan jogging tiap pagi hari, dengan diasah lama-lama akan terbiasa dan menjadi kebiasaan, yang selanjutnya pada dimensi mental misalnya kita kesulitan dalam memahami mata kuliah Pendidikan Moral dan Karakter maka dari itu kita harus lebih rajin belajar lagi, banyak membaca, banyak bertanya supaya lebih paham, yang ketiga dimensi spiritual Dalam diri kita, kita harus memberikan komitmen baik kepada kita, bahwa kita harus selalu melakukan yang terbaik, menghasilkan hal terbaik dan mendapatkan hal yang terbaik. Hal ini dilakukan dengan melatih diri sendiri untuk melakukan kebiasaan – kebiasaan yang baik, berkomitmen untuk selalu disiplin, tepat waktu, dan selalu ingat kepada pencipta kita. Yang terakhir dimensi sosial atau emosional dengan membiasakan melakukan kebiasaan – kebiasaan yang positif yang mempengaruhi lingkungan sosial, misalnnya dari kebiasaan membuang sampah sembarangan menjadi sadar membuang sampah pada tempatnya, karena kita tahu bahwa hal itu akan menyebabkan bencana alam banjir, lingkungan kotor, suasana tidak nyaman, dan lain-lain. Jika kita memulainya dari diri sendiri maka orang lain pun akan ikut melakukannya.
Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi kita semua, dan bisa menerapkan kebiasaan-kebiassan tersebut dalam kehidupan kita sehari-hari. Karena tidak ada yang tidak mungkin, jika kita ingin berubah menjadi lebih baik tentu harus dimulai dengan niat dan bertekad untuk selalu berusaha dan tetap istiqomah. Terimakasih

DAFTAR PUSTAKA
Covey, R Stephen. (2013).The 7 Habits of Highly Effective People. Tangerang Selatan: Binarupa Aksara Publisher (Bahasa Indonesia).


Senin, 17 Juni 2019


Nama   : Arneta Oktavia S (C1AA18021)
Kelas   : 1A-S1 Keperawatan

Hubungan Gadget dengan Kejadian Insomnia yang Berpengaruh Terhadap Prestasi

            Dengan seiring berjalannya waktu dan perkembangan zaman saat ini kita sudah memasuki era revolusi 4.0, dimana ilmu pengetahuan dan tekhnologi sudah berkembang pesat menjadi lebih canggih dari era-era sebelumnya. Salah satu contohnya adalah gadget, pasti kalian sudah tidak asing lagi mendengar kata gadget karena benda tersebut yang sering kita gunakan setiap waktu baik untuk mengakses jejaring sosial, game online, mengerjakan tugas dan lainnya. Gadget memberikan banyak dampak positif dan negatif, seperti yang akan dibahas dibawah ini. Mari kita kupas satu persatu.
A.    Gadget
Menurut Indrawan (2014) gadget adalah sebuah istilah yang berasal dari bahasa Inggris yang merujuk pada perangkat elektronik kecil yang memiliki fungsi khusus untuk mengunduh informasi-informasi terbaru dengan berbagai teknologi maupun fitur terbaru, sehingga membuat hidup manusia menjadi lebih praktis. Gadget merupakan teknologi yang sangat terkenal sekarang ini, orang dewasa atau anak-anak memakai gadget. Dimana banyak produk-produk gadget yang menjadikan anak-anak sebagai incaran mereka dan anak-anak kini telah menjadi pemakai aktif pengguna gadget (Fathoni, 2017). Menurut Direktur Jendral Informasi dan Komunikasi Publik Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), pada tahun 2015 pengguna ponsel di tanah air diperkirakan ada 270 juta gadget digunakan oleh penduduk Indonesia yang sudah melebihi penduduk Indonesia yang hanya sekitar 250 juta jiwa. Sedangkan penggunaan gadget di Indonesia di dominasi oleh remaja berusia 15-19 tahun sebesar 80% (Kemenkominfo, 2014).
Gadget memiliki banyak dampak positif dan negatif nya seperti yang sudah disampaikan diatas, berdasarkan seseorang yang mengoprasikannya seperti contoh dari dampak positif yang sederhana menggunakan gadget hanya untuk berkomunikasi dan mengerjakan tugas seperti mencari materi dari google. Dampak negatif nya gadget digunakan tanpa henti untuk bermain game online, menggunakan media sosial tanpa tau waktu. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di SMA Negeri 9 Manado oleh Beauty Manumpil, Yudi Ismanto, Franly Onibala dalam jurnalnya menunjukkan bahwa dari 41 siswa sebanyak 18 siswa menggunakan gadget lebih dari 11 jam perhari dan gadget digunakan untuk browsing bahkan paling banyak digunakan untuk bermain game online dan untuk mengakses berbagai media sosial yang ada ( Instagram, Path, Facebook, twitter), mereka cenderung memiliki gadget untuk mengikuti trend yang ada saat ini, jadi terbukti gadget tidak hanya memberikan dampak positif saja tetapi memiliki dampak negatif juga.

 Saat ini tidak hanya remaja dan dewasa saja yang menggunakan gadget tetapi anak kecil sudah banyak bahkan balita pun sudah dikenalkan dengan gadget oleh orang tua nya. Padahal itu tidak baik karena dapat menghambat perkembangan si anak, sesuai yang disampaikan Widiawati dan Sugiman pada tahun 2014 membuktikan faktanya gadget tak hanya digunakan oleh orang dewasa atau lanjut usia (22 tahun keatas), remaja (12-21 tahun), tapi pada anak-anak (7-11 tahun), dan lebih ironisnya lagi gadget digunakan untuk anak usia (3-6 tahun), yang seharusnya belum layak untuk menggunakan gadget.
B.     Insomnia
Insomnia adalah kesulitan memulai dan mempertahankan tidur  dalam Lopez (2011), tentang gangguan tidur pada anak remaja. Orang yang mengalami insomnia memiliki kualitas dan kuantitas tidur yang kurang sehingga pada saat bangun tidur, penderita insomnia merasa tidak segar dan masih mengantuk. Fenomena yang diperoleh Rizqiea (2012), tentang insomnia pada kalangan remaja di SMA N 101 semarang, mengenai pengertian insomnia yaitu persepsi atau keluhan tidur yang tidak memadai atau kurang berkualitas karena satu atau lebih dari hal-hal berikut ini, seperti kesulitan tidur, sering terbangun pada malam hari dengan susah kembali untuk tidur, bangun terlalu dini di pagi hari.
Biasanya banyak remaja mengupdate status di media sosial duh susah tidur insomnia, mungkin salah satu penyebabnya adalah penggunaan gadget mengapa bisa dikatakan seperti itu karena yang semestinya mereka tidur paling malam pukul 21.00 wib karena keasikan bermain gadget rasa ngantuk pun hilang dan tidak terasa waktu sudah malam sampai-sampai menjadi sulit tidur. Sesuai dengan hasil penelitian dari Nugraha (2016), tentang hubungan pengguna jejaring sosial dengan  insomnia pada mahasiswa laki – laki fakultas teknik sipil universitas udayana, yaitu sebanyak 30 orang yang terdiri dari insomnia 9 orang (28,48%) dan mahasiswa tidak mengalami insomnia 21 orang (71,15%).
C.    Prestasi
Prestasi merupakan rumus yang diberikan guru mata pelajaran berkenaan kemajuan atau prestasi belajar selama kurun waktu tertentu. (Sumadi Suryabrata, 1998). Prestasi Belajar merupakan sesuatu yang didapatkan dari seseorang dalam kegiatan pembelajaran. (Siti Pratini, 2005). Yang disebut dengan prestasi adalah sesuatu yang telah dicapai, dilakukan, dan lainnya. (Kamus Besar Bahasa Indonesia).
Prestasi sendiri juga tidak hanya dikatakan sesuatu yang dicapai dari sebuah mata pelajaran seperti matematika, Bahasa Indonesia dan lainnya, prestasi tersebut biasanya dikatakan prestasi akademik, diluar dari prestasi akademik pun ada yaitu prestasi non akademik seperti mendapatkan kejuaraan dibidang olahraga. Prestasi dihasilkan dari bagaimana usaha, cara belajar kita sehari-hari. Apabila kita rajin belajar kita pasti akan mendapatkan prestasi yang baik, apabila kita bermalas-malasan untuk belajar tentu prestasi kita pasti akan menurun, seperti kita hanya menghabiskan waktu untuk membuka gadget dan bermain game online, membuka media sosial sampai kita tidak tau waktu bukannya malah belajar pasti akan mengakibatkan prestasi kita menurun, maka dari itu kita harus pintar-pintar mengatur waktu, kapan waktu untuk kita belajar, kapan waktu untuk kita bermain, gunakanlah kecanggilahn tekhnologi dengan cerdas seperti membantu kita dalam mengerjakan tugas.
D.    Hubungan Gadget dengan Kejadian Insomnia yang Berpengaruh Terhadap Prestasi
Tentu terdapat hubungan antara penggunaan gadget dengan kejadian insomnia yang berpengaruh terhadap prestasi yaitu apabila gadget digunakan seperti seharusnya dan tidak berlebihan idak akan memberikan dampak yang buruk, penggunaan gadget harus dibatasi tidak boleh berlebihan karena salah satunya apabila kita keasikan bermain gadget sampai larut malam akan mengakibatkan insomnia atau kesulitan tidur. Sesuai hasil penelitian dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : Sebagian besar lama penggunaan gadget pada siswa-siswi di SMA Negeri 1 Kawangkoan, yaitu lama penggunaan gadget < 11 jam/hari, sebagian besar kejadian insomnia pada siswa-siswi di SMA Negeri 1 Kawangkoan, yaitu insomnia ringan.
 Gadget banyak dipakai oleh remaja untuk mengakses sosial media seperti Instagram, twitter dan lainnya dengan waktu kurang lebih 11 jam dalam sehari seperti penelitian yang dilakukan oleh Hasella (2013), Berdasarkan hasil penelitian di SMA Negeri 9 Manado menunjukkan bahwa dari 41 siswa sebanyak 18 siswa menggunakan gadget lebih dari 11 jam perhari dan gadget digunakan untuk browsing bahkan paling banyak digunakan untuk bermain game online dan untuk mengakses berbagai media sosial yang ada ( Instagram, Path, Facebook, twitter), mereka cenderung memiliki gadget untuk mengikuti trend yang ada saat ini.
Dengan pemakaian berlebihan tersebut seseorang menggunakan gadget rata-rata hanya untuk bermain game online atau mengakses sosial media bukan untuk sarana pembelajaran seperti membantu menyelesaikan tugas melalui pencarian di google. Yang menyebabkan prestasi siswa banyak menurun sesuai dengan penelitian, didapatkan hasil dari nilai rata-rata siswa di XI MIA 5 yaitu 30 (73,2 %) responden memiliki nilai tinggi sedangkan 11 (26,8 %) responden lainnya memiliki nilai rendah. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa 19 (46,3 %) responden sering menggunakan gadget dan 22 (53,7%) responden jarang menggunakan gadget. Manfaat penggunakaan gadget didapatkan 30 (73,2 %) responden menggunakan gadget untuk mengakses media sosial seperti Path, instagram,facebook,twitter, dan berbagai media sosial lainnya.
 Hubungan yang sangat signifikan antara gadget, insomnia dan prestasi siswa adalah penggunaan gadget yang berlebihan bahkan sampai larut malam bisa menyebabkan insomnia atau kesulitan tidur, kebanyakan ketika kita sulit tidur bukannya memaksakan tidur tetapi malah bermain gadget yang menyebabkan rasa ngantuk semakin sulit karena keasikan bermain gadget yang menyebabkan pada saat bangun pagi tidak fresh karena semalam kurang tidur dan pada saat proses pembelajaran menjadi tidak fokus karena mengantuk saat dikelas yang bisa menyebabkan prestasi menjadi menurun, begitu juga penggunaan gadget hanya untuk bermain game online dan membuka media sosial bukan malah mempergunakan gadget untuk mengakses atau membantu menyelesaikan tugas akan berakibat menurunnya prestasi.
Peranan orang tua pun sangat berpengaruh karena saat ini banyak anak-anak bahkan balita sudah dikenalkan dengan yang namanya gadget, hal tersebut bisa menghambat perkembangannya karena belum seharusnya di umur tersebut dikenalkan dengan yang namanya gadget, saat ini kita sudah di jajah oleh tekhnologi yang canggih, dengan keberadaannya bisa memberikan dampak yang baik seperti kita mudah mengakses sosial media untuk berhubungan dengan keluarga atau sanak sodara kita yang berada diluar negeri, tetapi di satu sisi juga memberikan dampak yang buruk karena sejak balita sudah diperkenalkan dengan gadget yang sedikit-sedikit dapat merusak masa depan bangsa, tidak ada salahnya sejak kecil diperkenalkan tetapi pemakaiannya harus dibatasi karena sesuatu yang digunakan secara berlebihan itu tidak baik, kita harus bisa memilah-milah sesuatu tersebut banyak positifnya atau negatifnya, pasti kita akan memilih yang banyak positifnya dan menghindari yang negatifnya.

TERIMAKASIH SEMOGA BERMANFAAT!!




















DAFTAR PUSTAKA
Manumpil, Beauty., Ismanto, Yudi., Onibala, Franly. (2015). Hubungan Penggunaan Gadget dengan Tingkat Prestasi Siswa di SMA Negeri 9 Manado. Ejoural Keperawatan (e-Kep). 3(2); 1-7.
Dewanti, T.C., Widada., Triono. (2016). Hubungan Keterampilan Sosial dan Penggunaan
Gadget Smartphone dengan Prestasi Belajar Siswa SMA Negeri 9 Malang. Jurnal Kajian Bimbingan dan Konseling. 1(3); 126-131.
Mawitjere, O.C., Onibala, Franly., Ismanto, A. C. (2017). Hubungan Lama Penggunaan Gadget Dengan Kejadian Insomnia pada Siswa di SMA Negeri 1 Kawangkoan. Ejoural Keperawatan (e-Kep). 5(1); 1-5.
Saruji, M. A., Hassan, N. H., Drus, S. M. (2017). Impact Of Ict And Electronic Gadget Among Young Children In Education: A Conceptual Model. University Utara Malaysia. 25-165.
L, Mamatha. S., Hanakeri, P. A., Aminabhavi, V. A. (2016). Impact of gadgets on emotional maturity, reasoning ability of college students . International Journal of Applied Research. 749-756.